rsudrtnotopuro-sidoarjokab.org

Loading

kuning rumah sakit

kuning rumah sakit

Kuning Rumah Sakit: Understanding Hospital Jaundice in Newborns

Menguningnya kulit dan mata bayi baru lahir, yang dikenal sebagai penyakit kuning, adalah pemandangan umum di rumah sakit di seluruh dunia. Disebut sebagai “kuning” di beberapa daerah, khususnya di Indonesia dan Malaysia, kondisi ini, yang disebut penyakit kuning neonatal atau hiperbilirubinemia, memerlukan pemantauan dan penanganan yang cermat. Meskipun sering kali tidak berbahaya dan dapat disembuhkan dengan sendirinya, memahami penyebab, diagnosis, dan pengobatan kuning rumah sakit (ikterus di rumah sakit) sangat penting untuk memastikan perkembangan kesehatan bayi baru lahir.

Bilirubin: Penyebab Dibalik Warna Kuning

Ciri khas penyakit kuning yang berwarna kekuningan disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah pigmen kuning yang dihasilkan selama pemecahan normal sel darah merah. Hati, organ vital, biasanya memproses bilirubin, mengubahnya menjadi bentuk yang larut dalam air yang dapat dikeluarkan melalui empedu dan akhirnya dikeluarkan melalui tinja.

Pada bayi baru lahir, beberapa faktor berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit kuning. Pertama, bayi baru lahir memiliki tingkat pemecahan sel darah merah yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Hal ini menyebabkan produksi bilirubin lebih besar. Kedua, hati mereka seringkali belum matang dan kurang efisien dalam memproses bilirubin. Ketidakmatangan ini menghambat proses konjugasi, dimana bilirubin diubah menjadi bentuk yang larut dalam air. Ketiga, bayi baru lahir memiliki usus yang relatif steril, kekurangan bakteri yang diperlukan untuk memecah bilirubin di usus. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan reabsorpsi bilirubin kembali ke aliran darah, sehingga semakin memperburuk kondisi.

Penyakit Kuning Fisiologis: Jenis Yang Paling Umum

Jenis penyakit kuning yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir adalah penyakit kuning fisiologis. Ini adalah kondisi normal dan sementara yang biasanya muncul dalam 24 hingga 72 jam setelah kelahiran dan mencapai puncaknya pada hari ke 3 hingga 5. Penyakit kuning fisiologis disebabkan oleh faktor-faktor yang disebutkan di atas: peningkatan produksi bilirubin, fungsi hati yang belum matang, dan terbatasnya bakteri usus. Dalam kebanyakan kasus, kadar bilirubin secara bertahap menurun seiring dengan matangnya hati bayi baru lahir dan berkembangnya bakteri usus, dan akan hilang dalam waktu satu hingga dua minggu.

Penyakit Kuning Menyusui: Dua Bentuk Berbeda

Menyusui tidak dapat disangkal bermanfaat bagi bayi baru lahir karena menyediakan nutrisi penting dan antibodi. Namun, menyusui terkadang dapat dikaitkan dengan penyakit kuning dalam dua bentuk berbeda: penyakit kuning karena menyusui dan penyakit kuning karena ASI.

  • Penyakit Kuning Menyusui (Ikterus Awitan Dini): Jenis penyakit kuning ini biasanya terjadi pada minggu pertama kehidupan dan sering dikaitkan dengan kurangnya asupan ASI. Jika bayi baru lahir tidak menyusu dengan sering atau efektif, mereka mungkin tidak menerima cukup cairan dan kalori. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, penurunan tinja (yang membantu menghilangkan bilirubin), dan peningkatan reabsorpsi bilirubin. Mempromosikan pemberian ASI secara sering (8-12 kali sehari) dan memastikan pelekatan yang tepat sangat penting untuk mencegah dan menangani penyakit kuning saat menyusui.

  • Ikterus ASI (Ikterus Awitan Terlambat): Jenis penyakit kuning ini muncul kemudian, biasanya setelah minggu pertama kehidupan, dan dapat menetap selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Penyebab pasti penyakit kuning pada ASI belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini berkaitan dengan zat dalam ASI yang mengganggu metabolisme bilirubin. Zat-zat ini dapat menghambat enzim yang bertanggung jawab untuk mengkonjugasikan bilirubin di hati atau meningkatkan reabsorpsi bilirubin dari usus. Penyakit kuning akibat ASI umumnya tidak berbahaya, dan pemberian ASI biasanya harus dilanjutkan kecuali kadar bilirubin menjadi terlalu tinggi.

Penyakit Kuning Patologis: Saat Penyakit Kuning Menandakan Adanya Masalah

Meskipun penyakit kuning fisiologis dan terkait menyusui sering terjadi dan biasanya tidak berbahaya, penyakit kuning patologis menunjukkan adanya kondisi medis mendasar yang memerlukan perhatian segera. Penyakit kuning patologis ditandai dengan:

  • Penyakit kuning muncul dalam 24 jam pertama kehidupan.
  • Kadar bilirubin meningkat dengan cepat.
  • Peningkatan kadar bilirubin melebihi ambang batas yang ditetapkan.
  • Penyakit kuning yang berkepanjangan (berlangsung lebih dari dua minggu).
  • Tanda-tanda penyakit, seperti kurang makan, lesu, demam, atau mudah tersinggung.

Beberapa kondisi mendasar yang dapat menyebabkan penyakit kuning patologis, antara lain:

  • Ketidakcocokan Golongan Darah (Ketidakcocokan Rh atau ABO): Hal ini terjadi ketika ibu dan bayi memiliki golongan darah yang berbeda, dan sistem kekebalan tubuh ibu menghasilkan antibodi yang menyerang sel darah merah bayi, menyebabkan kerusakan sel darah merah dengan cepat dan peningkatan produksi bilirubin.

  • Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD): Kondisi genetik ini mempengaruhi fungsi sel darah merah dan membuatnya lebih rentan terhadap kerusakan, sehingga mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin.

  • Infeksi: Infeksi, seperti sepsis atau infeksi saluran kemih, dapat mengganggu fungsi hati dan meningkatkan produksi bilirubin.

  • Atresia Bilier: Kondisi langka ini melibatkan penyumbatan saluran empedu, sehingga mencegah bilirubin dikeluarkan dari hati.

  • Cephalohematoma atau Memar: Memar yang signifikan atau cephalohematoma (kumpulan darah di bawah kulit kepala) dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin saat tubuh memecah darah.

Diagnosis: Mengidentifikasi dan Mengukur Kadar Bilirubin

Mendiagnosis penyakit kuning melibatkan penilaian visual dan pengukuran kadar bilirubin. Profesional layanan kesehatan biasanya menggunakan bilirubinometer transkutan (TcB) untuk memperkirakan kadar bilirubin secara non-invasif dengan menempatkan probe pada kulit bayi. Jika pembacaan TcB meningkat, tes darah (kadar bilirubin serum) biasanya dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan konsentrasi bilirubin yang tepat.

Pengobatan: Menurunkan Kadar Bilirubin dan Mencegah Komplikasi

Pengobatan penyakit kuning tergantung pada penyebab yang mendasari dan tingkat keparahan hiperbilirubinemia. Modalitas pengobatan yang umum meliputi:

  • Fototerapi: Ini adalah pengobatan penyakit kuning yang paling umum. Bayi baru lahir ditempatkan di bawah lampu biru khusus, yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air yang dapat dikeluarkan melalui urin dan tinja. Mata bayi dilindungi dengan pelindung mata selama fototerapi.

  • Transfusi Tukar: Ini adalah prosedur yang lebih invasif yang digunakan pada kasus hiperbilirubinemia yang parah. Ini melibatkan pengambilan darah bayi dan menggantinya dengan darah donor, yang secara efektif menurunkan kadar bilirubin.

  • Imunoglobulin Intra Vena (IVIG): Ini digunakan dalam kasus ketidakcocokan Rh atau ABO untuk mencegah antibodi ibu menyerang sel darah merah bayi.

  • Mengobati Kondisi yang Mendasari: Jika penyakit kuning disebabkan oleh kondisi medis yang mendasarinya, seperti infeksi, maka kondisi yang mendasarinya harus diobati.

Kernikterus: Komplikasi Paling Serius

Jika kadar bilirubin menjadi terlalu tinggi dan tidak segera diobati, bilirubin dapat melewati sawar darah otak dan merusak otak, sehingga menyebabkan kondisi yang disebut kernikterus. Kernikterus dapat menyebabkan kerusakan saraf yang parah, termasuk lumpuh otak, gangguan pendengaran, dan cacat intelektual. Diagnosis dini dan pengobatan penyakit kuning sangat penting untuk mencegah kernikterus.

Pemantauan dan Tindak Lanjut: Memastikan Kesehatan yang Berkelanjutan

Setelah keluar dari rumah sakit, bayi baru lahir dengan penyakit kuning memerlukan pemantauan dan tindak lanjut yang ketat. Orang tua harus diinstruksikan tentang cara memantau bayi mereka untuk melihat tanda-tanda penyakit kuning yang memburuk, seperti semakin menguningnya kulit dan mata, pola makan yang buruk, lesu, atau mudah tersinggung. Pemeriksaan rutin ke dokter anak sangat penting untuk memantau kadar bilirubin dan memastikan penyakit kuning dapat teratasi dengan baik.

Memahami kuning rumah sakit, atau penyakit kuning di rumah sakit, sangat penting bagi profesional kesehatan dan orang tua. Dengan mengenali penyebab, faktor risiko, dan pilihan pengobatan, kita dapat memastikan bahwa bayi baru lahir menerima perawatan yang tepat dan tepat waktu yang mereka perlukan untuk mencegah komplikasi dan tumbuh kembangnya. Pemantauan yang cermat, intervensi yang cepat, dan pendidikan orang tua adalah kunci untuk menangani penyakit kuning secara efektif dan menjaga perkembangan kesehatan pasien termuda kami.